Demokrasi diambil dari bahasa Latin, demos yang
berarti rakyat dan kratos yang berarti hukum atau
kekuasaan. Jadi demokrasi adalah hukum dan
kekuasaan rakyat, dan dibahasakan dalam Undang
Undang Dasar RI dengan “Kedaulatan berada di
tangan rakyat”.
Demokrasi memiliki beberapa ajaran, di antaranya:
1. Sumber hukum bukan Allah Subhaanahu Wa
Ta’ala, akan tetapi rakyat
2. Hukum yang dipakai bukanlah hukum Allah,
akan tetapi hukum buatan
3. Memberikan kebebasan berkeyakinan dan
mengeluarkan fikiran dan pendapat
4. Kebenaran adalah suara terbanyak
5. Tuhannya banyak dan beraneka ragam
6. Persamaan hak
Ajaran-ajaran demokrasi atau dien (agama)
demokrasi ini semuanya kontradiktif dengan dien
kaum muslimin, Al Islam. Sebagian manusia
merasa aneh saat kami menyebut demokrasi
sebagai dien padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala
mengatakan:
ِﻚِﻠَﻤْﻟﺍ ِﻦﻳِﺩ ﻲِﻓ ُﻩﺎَﺧَﺃ َﺬُﺧْﺄَﻴِﻟ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ
“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya
menurut undang-undang raja (dien al malik)
…” (QS. Yusuf [12]: 76)
Undang-undang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala
namakan sebagai dien (agama/jalan hidup yang
ditempuh), sedangkan demokrasi itu memilliki
undang-undang selain Islam. Jadi dien (agama)
kafir itu bukan hanya Nashrani, Yahudi, Hindu,
Budha, Konghucu, Shinto, dan Majusi saja… akan
tetapi Demokrasi adalah dien, Nasionalisme adalah
dien, Kapitalisme adalah dien, Sekulerisme adalah
dien. Sedangkan Islam adalah dien kaum
muslimin, sedangkan Demokrasi adalah dien kaum
musyrikin, baik kaum musyrikin yang mengaku
Islam atau yang mengaku bukan Islam.
Untuk benar-benar mengetahui kekufuran dien
Demokrasi ini, maka mari kita kupas ajaran-
ajarannya itu dengan membandingkannya dengan
ajaran Islam.
1. Sumber hukum bukan Allah Subhanahu Wa
Ta’ala, akan tetapi rakyat.
Dikarenakan rakyat adalah yang berdaulat dan
yang berkuasa, maka sumber hukumnya pun
adalah rakyat yang diwakili oleh wakil-wakil mereka
di Parlemen (MPR/DPR). Dan bila anda membuka
Konstitusi (Undang Undang Dasar) semua negara
yang bersistem Demokrasi, maka pasti
mendapatkan bahwa kekuasaan Legislatif
(tasyri’iyyah – pembuatan hukum) ada di tangan
majelis rakyat, ada juga yang ‘bebas’ seperti di
negara-negara barat, dan ada yang terbatas seperti
di negara-negara Arab dan negara timur yang
mana Raja, Amir, dan Presiden sangat
menentukan, dan tidak lupa juga bahwa demokrasi
atau aspirasi rakyat ini tidak semuanya digulirkan,
kecuali bila sesuai dengan thaghut Latta mereka
yaitu Undang Undang Dasar.
Padahal sumber/kekuasaan/wewenang hukum itu
di dalam dien Al Islam ada di Tangan Allah
Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
ِﻪَّﻠِﻟ ﻻِﺇ ُﻢْﻜُﺤْﻟﺍ ِﻥِﺇ
“keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah” (QS.
Yusuf [12]: 40)
Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:
ِﻪَّﻠِﻟ ﻻِﺇ ُﻢْﻜُﺤْﻟﺍ ِﻥِﺇ
“…menetapkan hukum itu hanyalah hak
Allah…” (QS. Al An’am [6]: 57)
Setelah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menjelaskan
bahwa Dia-lah yang menciptakan dan yang
memilih apa yang Dia kehendaki serta bahwa
manusia tidak punya hak untuk memilih setelah
Allah menentukan, Dia Subhanahu Wa Ta’ala
berfirman:
ﻰَﻟﻭﻷﺍ ﻲِﻓ ُﺪْﻤَﺤْﻟﺍ ُﻪَﻟ َﻮُﻫ ﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ ﻻ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻮُﻫَﻭ
َﻥﻮُﻌَﺟْﺮُﺗ ِﻪْﻴَﻟِﺇَﻭ ُﻢْﻜُﺤْﻟﺍ ُﻪَﻟَﻭ ِﺓَﺮِﺧﻵﺍَﻭ
“Dan Dia-lah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak
diibadati melainkan Dia, bagiNya-lah segala puji di
dunia dan di akhirat, dan bagiNya-lah segala
penentuan dan hanya kepadaNya-lah kamu
dikembalikan” (QS. Al Qashash [28]: 70)
Dan Dia Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
َﻚْﻴَﻟِﺇ ْﺖَﻟِﺰْﻧُﺃ ْﺫِﺇ َﺪْﻌَﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺕﺎَﻳﺁ ْﻦَﻋ َﻚَّﻧُّﺪُﺼَﻳ ﻻَﻭ
ﻻَﻭ (٨٧) َﻦﻴِﻛِﺮْﺸُﻤْﻟﺍ َﻦِﻣ َّﻦَﻧﻮُﻜَﺗ ﻻَﻭ َﻚِّﺑَﺭ ﻰَﻟِﺇ ُﻉْﺩﺍَﻭ
ٌﻚِﻟﺎَﻫ ٍﺀْﻲَﺷ ُّﻞُﻛ َﻮُﻫ ﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ ﻻ َﺮَﺧﺁ ﺎًﻬَﻟِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻊَﻣ ُﻉْﺪَﺗ
َﻥﻮُﻌَﺟْﺮُﺗ ِﻪْﻴَﻟِﺇَﻭ ُﻢْﻜُﺤْﻟﺍ ُﻪَﻟ ُﻪَﻬْﺟَﻭ ﻻِﺇ
“Dan janganlah sekali-kali mereka dapat
menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat
Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu,
dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan
janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-
orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah
kamu sembah di samping (menyembah) Allah,
tuhan apapun yang lain, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu
pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala
penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu
dikembalikan”. (QS. Al Qashash [28]: 87-88)
Ayat-ayat lainnya yang menjelaskan bahwa hak
menentukan hukum dan putusan serta penetapan
hanyalah milik Allah dan hak khusus rububiyyah
serta uluhiyyah-Nya, Rasulullah shalallahu‘alaihi wa
sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah-lah yang
memutuskan dan hanya kepada-Nyalah putusan
itu (disandarkan)”
Ini adalah dienullah yang dianut oleh kaum
muslimin, sedangkan yang tadi adalah dien
Demokrasi yang dianut oleh kaum musyrikin. Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ﻲِﻓ َﻮُﻫَﻭ ُﻪْﻨِﻣ َﻞَﺒْﻘُﻳ ْﻦَﻠَﻓ ﺎًﻨﻳِﺩ ِﻡﻼْﺳﻹﺍ َﺮْﻴَﻏ ِﻎَﺘْﺒَﻳ ْﻦَﻣَﻭ
َﻦﻳِﺮِﺳﺎَﺨْﻟﺍ َﻦِﻣ ِﺓَﺮِﺧﻵﺍ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam,
maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-
orang yang rugi”. (QS. Ali Imran [3]: 85)
Apakah sama antara dua dien ini wahai manusia…?
Dan apa yang anda pilih, Islam ataukah
Demokrasi…?
Bayangkan saja… bila yang menjadi sumber
hukum itu adalah manusia yang sangat penuh
dengan kekurangan dan keterbatasan, apa jadinya
hukum yang diundang-undangkan itu? Bulan ini
dibuat dan diibadati, namun beberapa bulan
berikutnya dihapuskan (baca: dimakan) atau
direvisi, karena sudah tidak relevan lagi, tidak ada
bedanya dengan tuhan (berhala) dari adonan roti
yang mereka (kafir Arab dahulu) buat dan mereka
ibadati, namun ketika lapar mereka santap habis.
Sedangkan bila yang menjadi sumber hukum itu
hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia-lah
Dzat Yang Maha Mengetahui segalanya.
ُﺮﻴِﺒَﺨْﻟﺍ ُﻒﻴِﻄَّﻠﻟﺍ َﻮُﻫَﻭ َﻖَﻠَﺧ ْﻦَﻣ ُﻢَﻠْﻌَﻳ ﻻَﺃ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak
mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan);
dan dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al
Mulk [67]: 14)
2. Hukum yang dipakai bukan hukum Allah tapi
hukum buatan
Tadi telah dijelaskan bahwa sumber hukum agama
Demokrasi adalah rakyat, maka sudah pasti hukum
yang dipakai adalah bukan hukum Allah, tapi
hukum rakyat (wakilnya) atau hukum yang
disetujui oleh mereka, juga dikarenakan dien
Demokrasi ini adalah menyatukan semua pemeluk
dien yang beraneka ragam dan mengakuinya serta
menampung semua aspirasinya, sedangkan untuk
kesatuan mereka ini dibutuhkan hukum yang
mengikat semua dan disepakati bersama, padahal
para pemeluk dien selain Al Islam tidak akan rela
dengan hukum Islam sehingga disepakatilah
hukum yang menyatukan mereka, dan itu bukan
hukum Allah, tapi hukum wali-wali syaitan.
Sungguh ini adalah kerusakan yang besar,
kekafiran yang nyata serta kemurtadan yang
nampak jelas bagi pemeluk Islam yang ridha
dengannya atau mendukungnya apalagi
menerapkan atau melindunginya. Padahal Allah
Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
ُﻢُﻫ َﻚِﺌَﻟﻭُﺄَﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻝَﺰْﻧَﺃ ﺎَﻤِﺑ ْﻢُﻜْﺤَﻳ ْﻢَﻟ ْﻦَﻣَﻭ ﺇ
َﻥﻭُﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ
“…barangsiapa yang tidak memutuskan menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir”. (QS. Al Maidah [5]: 44)
Sekutu dengan hukum buatan itu syirik akbar,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ُﻪَّﻧِﺇَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻢْﺳﺍ ِﺮَﻛْﺬُﻳ ْﻢَﻟ ﺎَّﻤِﻣ ﺍﻮُﻠُﻛْﺄَﺗ ﻻَﻭ
ْﻢِﻬِﺋﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ ﻰَﻟِﺇ َﻥﻮُﺣﻮُﻴَﻟ َﻦﻴِﻃﺎَﻴَّﺸﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ ٌﻖْﺴِﻔَﻟ
َﻥﻮُﻛِﺮْﺸُﻤَﻟ ْﻢُﻜَّﻧِﺇ ْﻢُﻫﻮُﻤُﺘْﻌَﻃَﺃ ْﻥِﺇَﻭ ْﻢُﻛﻮُﻟِﺩﺎَﺠُﻴِﻟ
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang
yang tidak disebut nama Allah ketika
menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang
semacam itu adalah suatu kefasikan.
Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada
kawan-kawannya agar mereka membantah kamu;
dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya
kamu tentulah menjadi orang-orang yang
musyrik”. (QS. Al An’am [6]: 121)
Tentang ayat ini Al Hakim dan yang lainnya
meriwatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu
‘Abbas: Bahwa orang-orang membantah kaum
muslimin tentang sembelihan dan pengharaman
bangkai, mereka berkata: “Kalian makan apa yang
kalian bunuh dan tidak makan dari apa yang Allah
bunuh” yaitu bangkai, maka Allah berfirman “Dan
jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu
tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”
Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat
ini: “Dimana kamu berpaling dari perintah Allah dan
aturan-Nya kepada yang lainnya, terus kamu
mendahulukan terhadap aturan Allah yang lainnya,
maka inilah syirik itu”
Memakai hukum selain hukum Allah adalah syirik
akbar…
Bila saja orang yang menuruti atau meridhai satu
hukum yang menyelisihi aturan Allah, telah Allah
vonis musyrik, maka apa gerangan dengan
Demokrasi yang seluruhnya adalah bukan hukum
Allah. Kalau memang ada satu macam atau
beberapa macam hukum yang ada dalam
Demokrasi itu serupa dengan ajaran Islam, tetap
saja itu tidak disebut hukum Allah dan tidak
merubah kekafiran penganut dien Demokrasi.
Andai ada orang Nashrani yang jujur dan amanah,
apakah itu bisa menyebabkan dia itu disebut
muslim karena jujur dan amanah itu ajaran Islam?
Sama sekali tidak, karena jujur dan amanahnya itu
bukan atas dorongan tauhid, tapi kepentingan lain,
maka begitu juga dengan Demokrasi.
Oleh sebab itu para ulama tetap ijma atas kafirnya
orang yang menerapkan kitab Undang-undang
hukum Tartar (Yasiq/Ilyasa) yang dibuat oleh
Jengis Khan, padahal sebagiannya diambil dari
Syari’at Islam.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Siapa yang
meninggalkan syari’at paten yang diturunkan
kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para
nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada yang
lainnya berupa hukum-hukum (Allah) yang sudah
dinasakh (dihapus), maka dia kafir. Maka apa
gerangan dengan orang yang berhukum kepada
Ilyasa dan lebih mengedepankannya atas hukum
Allah? Siapa yang melakukannya maka dia kafir
dengan ijma’ kaum muslimin”. (Al Bidayah Wan
Nihayah: 13/119).
Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata tentang
Yasiq/Ilyasa: “Ia adalah kitab undang-undang
hukum yang dia (Raja Tartar, Jengis Khan) kutip
dari berbagai sumber; dari Yahudi, Nashrani, Millah
Islamiyyah, dan yang lainnya, serta di dalamnya
banyak hukum yang dia ambil dari sekedar
pandangannya dan keinginannya, lalu (kitab) itu
bagi keturunannya menjadi aturan yang diikuti
yang lebih mereka kedepankan dari pada al hukmu
bi Kitabillah wa sunnati Rasulillah shalallahu‘alaihi
wa sallam. Siapa yang melakukan itu, maka wajib
diperangi hingga kembali kepada hukum Allah dan
Rasul-Nya, selainnya tidak boleh dijadikan acuan
hukum dalam hal sedikit atau banyak”.
Ini dikarenakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala
berfirman:
ْﻊِﺒَّﺘَﺗ ﻻَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻝَﺰْﻧَﺃ ﺎَﻤِﺑ ْﻢُﻬَﻨْﻴَﺑ ْﻢُﻜْﺣﺍ ِﻥَﺃَﻭ
َﻝَﺰْﻧَﺃ ﺎَﻣ ِﺾْﻌَﺑ ْﻦَﻋ َﻙﻮُﻨِﺘْﻔَﻳ ْﻥَﺃ ْﻢُﻫْﺭَﺬْﺣﺍَﻭ ْﻢُﻫَﺀﺍَﻮْﻫَﺃ
َﻚْﻴَﻟِﺇ ُﻪَّﻠﻟﺍ
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di
antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah,
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap
mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu
dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu…” (QS. Al Maidah [5]: 49)
Dalam ayat itu, Allah mengatakan “menurut apa
yang diturunkan Allah”, dan tidak mengatakan
“menurut seperti apa yang diturunkan Allah”.
Dalam ajaran demokrasi hukum yang berlaku
adalah hukum jahiliyyah:
َﻥﻮُﻐْﺒَﻳ ِﺔَّﻴِﻠِﻫﺎَﺠْﻟﺍ َﻢْﻜُﺤَﻓَﺃ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki…” (QS. Al Maidah [5]: 50)
Dalam ajaran tauhid, orang tidak dikatakan muslim,
kecuali dengan kufur kepada thaghut yang di
antaranya berbentuk undang-undang buatan
manusia, sedangkan demokrasi mengajak orang-
orang untuk beriman kepada thaghut, padahal
Allah berfirman:
َﻝِﺰْﻧُﺃ ﺎَﻤِﺑ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ْﻢُﻬَّﻧَﺃ َﻥﻮُﻤُﻋْﺰَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ َﺮَﺗ ْﻢَﻟَﺃ
ﺍﻮُﻤَﻛﺎَﺤَﺘَﻳ ْﻥَﺃ َﻥﻭُﺪﻳِﺮُﻳ َﻚِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ َﻝِﺰْﻧُﺃ ﺎَﻣَﻭ َﻚْﻴَﻟِﺇ
ِﻪِﺑ ﺍﻭُﺮُﻔْﻜَﻳ ْﻥَﺃ ﺍﻭُﺮِﻣُﺃ ْﺪَﻗَﻭ ِﺕﻮُﻏﺎَّﻄﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang
yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa
yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu? mereka hendak
berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah
diperintah mengingkari thaghut itu…” (QS. An Nisa
[4]: 60)
Lihatlah realita para demokrat serta para
pendukungnya justeru adalah sebagaimana yang
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala firmankan:
ﻰَﻟِﺇَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻝَﺰْﻧَﺃ ﺎَﻣ ﻰَﻟِﺇ ﺍْﻮَﻟﺎَﻌَﺗ ْﻢُﻬَﻟ َﻞﻴِﻗ ﺍَﺫِﺇَﻭ
ﺍًﺩﻭُﺪُﺻ َﻚْﻨَﻋ َﻥﻭُّﺪُﺼَﻳ َﻦﻴِﻘِﻓﺎَﻨُﻤْﻟﺍ َﺖْﻳَﺃَﺭ ِﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu
(tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan
dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat
orang-orang munafiq menghalangi (manusia)
dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.
(QS. An Nisa [4]: 61)
Jika ada yang serupa dengan ajaran Islam dalam
hukum mereka itu, tidak lebih dari apa yang tidak
bertentangan dengan selera dan kepentingan
mereka, dan itu setelah proses tarik menarik dan
diskusi panjang antara mengiakan dengan tidak,
tak ubahnya dengan orang-orang yang Allah
firmankan:
ﺍَﺫِﺇ ْﻢُﻬَﻨْﻴَﺑ َﻢُﻜْﺤَﻴِﻟ ِﻪِﻟﻮُﺳَﺭَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ ﺍﻮُﻋُﺩ ﺍَﺫِﺇَﻭ
ﺍﻮُﺗْﺄَﻳ ُّﻖَﺤْﻟﺍ ُﻢُﻬَﻟ ْﻦُﻜَﻳ ْﻥِﺇَﻭ (٤٨) َﻥﻮُﺿِﺮْﻌُﻣ ْﻢُﻬْﻨِﻣ ٌﻖﻳِﺮَﻓ
ﺍﻮُﺑﺎَﺗْﺭﺍ ِﻡَﺃ ٌﺽَﺮَﻣ ْﻢِﻬِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓَﺃ (٤٩) َﻦﻴِﻨِﻋْﺬُﻣ ِﻪْﻴَﻟِﺇ
ْﻞَﺑ ُﻪُﻟﻮُﺳَﺭَﻭ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻒﻴِﺤَﻳ ْﻥَﺃ َﻥﻮُﻓﺎَﺨَﻳ ْﻡَﺃ
َﻥﻮُﻤِﻟﺎَّﻈﻟﺍ ُﻢُﻫ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ
“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan
Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di
antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka
menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu
untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang
kepada Rasul dengan patuh. Apakah
(ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati
mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-
ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan
Rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka?
Sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang
zhalim”. (QS. An Nur [24]: 48-50)
Apakah anda masih meragukan bahwa Demokrasi
itu dien kufriy…?
Apakah Islam atau Ad Dimoqrathiyyah…?
ﻲِﻓ ْﻦَﻣ َﻢَﻠْﺳَﺃ ُﻪَﻟَﻭ َﻥﻮُﻐْﺒَﻳ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻦﻳِﺩ َﺮْﻴَﻐَﻓَﺃ
َﻥﻮُﻌَﺟْﺮُﻳ ِﻪْﻴَﻟِﺇَﻭ ﺎًﻫْﺮَﻛَﻭ ﺎًﻋْﻮَﻃ ِﺽْﺭﻷﺍَﻭ ِﺕﺍَﻭﺎَﻤَّﺴﻟﺍ
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain
dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah
menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di
bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan
hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”. (QS.
Ali Imran [3]: 83)
3. Memberikan kebebasan berkeyakinan dan
mengeluarkan fikiran dan pendapat
Demokrasi adalah dien yang melindungi semua
agama, mengakui serta menjamin kebebasannya.
Orang Nashrani bila mau masuk Islam maka
Demokrasi mempersilahkan dan mengakuinya,
dan begitu juga orang Islam jika ingin masuk
Nashrani atau agama lainnya, maka dien
Demokrasi tidak mempersalahkannya apalagi
memberikan sanksi terhadapnya.
Dari itu berarti dien Demokrasi telah menghalalkan
pintu-pintu kemurtadan serta menggugurkan
hukum-hukum yang berkaitan dengannya,
padahal Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam
bersabda: “Siapa yang mengganti agamanya,
maka bunuhlah”.
Andai seorang muslim karena ghirahnya sangat
tinggi lalu dia membunuh orang murtad, maka
tentulah dia mendapat hukuman. Begitu juga dien
demokrasi memberikan kebebasan untuk
mengeluarkan fikiran dan pendapat, walaupun
fikiran dan pendapat itu adalah kekufuran.
Jadi Demokrasi membuka pintu kekufuran dari
berbagai sisi. Dari sinilah rahasia kenapa sanksi-
sanksi yang bersifat keagamaan ditiadakan dan
tidak diberlakukan, karena itu bertentangan dengan
kebebasan berkeyakinan.
Saat seorang bapak meninggal dunia dan si anak
telah murtad, maka hukum demokrasi masih
menetapkan warisan baginya.
Saat si suami murtad, sedangkan isteri masih
muslimah… namun dien Demokrasi tidak
mengharuskan pisah (fasakh) di antara keduanya.
Allah dan Rasul-Nya dibiarkan dihina siang dan
malam, dan ajaran Islam dicemoohkan dan
dilecehkan dengan dalih kebebasan mengeluarkan
fikiran dan pendapat. Memang Demokrasi itu
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi
semua faham dan aliran kecuali Tauhid, karena
seandainya ada muwahhid yang mencela dan
menghina atau berupaya membunuh thaghut
mereka, tentulah dia dikenakan pasal hukuman,
padahal itu ajaran Tauhid.
Begitulah kebebasan yang dimaksud oleh dien
Demokrasi… Kebebasan kufur, syirik, ilhad,
zandaqah, dan riddah… bukan kebebasan Tauhid…!
4. Kebenaran adalah suara terbanyak
Hal yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah bahwa
dien Demokrasi memiliki ajaran bahwa al haq itu
bersama suara rakyat atau mayoritasnya. Adapun
yang diinginkan oleh mayoritas, maka itu adalah
kebenaran yang harus diterima dan diamalkan
meskipun jelas-jelas bertentangan dengan Tauhid.
Oleh karena itu setiap partai politik yang ingin
menguasai Parlemen dan Pemerintahan pasti dia
mencari dukungan sebanyak-banyaknya dari
rakyat, kemudian setelah itu mereka bisa
menerapkan putusan apa saja meskipun
melanggar aturan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan
Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam, asal tidak
melenceng dari Tuhan mereka tertinggi yang
padahal mereka sendiri yang membuatnya, yaitu
Undang Undang Dasar.
Padahal kebenaran itu hanyalah bersumber dari
Allah, baik mayoritas menyukainya atau tidak. Allah
Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
َﻦﻳِﺮَﺘْﻤُﻤْﻟﺍ َﻦِﻣ ْﻦُﻜَﺗ ﻼَﻓ َﻚِّﺑَﺭ ْﻦِﻣ ُّﻖَﺤْﻟﺍ
“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, karena itu
janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-
ragu”. (QS. Ali Imran [3]: 60)
Juga firman-Nya Subhaanahu Wa Ta’ala:
َﻦﻳِﺮَﺘْﻤُﻤْﻟﺍ َﻦِﻣ َّﻦَﻧﻮُﻜَﺗ ﻼَﻓ َﻚِّﺑَﺭ ْﻦِﻣ ُّﻖَﺤْﻟﺍ
“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, Karena itu
janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-
ragu”. (QS. Al Baqarah [2]: 147)
Dikarenakan kebenaran adalah datang dari Allah
Subhaanahu Wa Ta’ala melalui lisan Rasul-Nya,
maka bila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu
putusan atau hukum, tidak boleh manusia
mempertimbangkan antara menerima atau tidak
serta tidak ada pilihan lain kecuali menerima dan
tunduk kepadanya.
ُﻪُﻟﻮُﺳَﺭَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻀَﻗ ﺍَﺫِﺇ ٍﺔَﻨِﻣْﺆُﻣ ﻻَﻭ ٍﻦِﻣْﺆُﻤِﻟ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣَﻭ
ِﺺْﻌَﻳ ْﻦَﻣَﻭ ْﻢِﻫِﺮْﻣَﺃ ْﻦِﻣ ُﺓَﺮَﻴِﺨْﻟﺍ ُﻢُﻬَﻟ َﻥﻮُﻜَﻳ ْﻥَﺃ ﺍًﺮْﻣَﺃ
ﺎًﻨﻴِﺒُﻣ ﻻﻼَﺿ َّﻞَﺿ ْﺪَﻘَﻓ ُﻪَﻟﻮُﺳَﺭَﻭ َﻪَّﻠﻟﺍ
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan
tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS.
Al Ahzab [33]: 36)
Dan firman-Nya Subhaanahu Wa Ta’ala:
ُﺓَﺮَﻴِﺨْﻟﺍ ُﻢُﻬَﻟ َﻥﺎَﻛ ﺎَﻣ
“sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS. Al
Qashash [28]: 68)
Para ahli tafsir menyatakan bahwa bila Allah telah
menentukan sesuatu, maka manusia tidak dapat
memilih yang lain lagi dan harus mentaati dan
menerima apa yang telah ditetapkan Allah.
Namun agama Demokrasi mengatakan lain, rakyat
bebas memilih apa yang mereka inginkan dan
mereka memiliki pilihan. Tapi bila rakyat (wakil-
wakil mereka tentunya) atau mayoritasnya
menentukan sesuatu, maka tidak ada pilihan lagi
kecuali mengikutinya, karena Tuhan yang berhak
menetapkan ketentuan dalam ajaran Demokrasi
adalah para wakil rakyat itu, bukannya Allah
Subhaanahu Wa Ta’ala.
Bila dien Demokrasi memiliki tolak ukur kebenaran
itu berdasarkan pada suara aghlabiyyah
(mayoritas), sehingga apapun yang disuarakan
oleh mereka, maka itulah kebenaran yang mesti
diikuti, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah
menghati-hatikan dari mengikuti keinginan
mayoritas manusia…
ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻞﻴِﺒَﺳ ْﻦَﻋ َﻙﻮُّﻠِﻀُﻳ ِﺽْﺭﻷﺍ ﻲِﻓ ْﻦَﻣ َﺮَﺜْﻛَﺃ ْﻊِﻄُﺗ ْﻥِﺇَﻭ
َﻥﻮُﺻُﺮْﺨَﻳ ﻻِﺇ ْﻢُﻫ ْﻥِﺇَﻭ َّﻦَّﻈﻟﺍ ﻻِﺇ َﻥﻮُﻌِﺒَّﺘَﻳ ْﻥِﺇ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang
yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain
hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap
Allah)” (QS. Al An’am [6]: 116)
Ini dikarenakan mayoritas (manusia) musyrik…
َﻥﻮُﻛِﺮْﺸُﻣ ْﻢُﻫَﻭ ﻻِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺎِﺑ ْﻢُﻫُﺮَﺜْﻛَﺃ ُﻦِﻣْﺆُﻳ ﺎَﻣَﻭ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman
kepada Allah, melainkan dalam keadaan
mempersekutukan Allah”. (QS. Yusuf [12]: 106)
Mayoritasnya tidak beriman…
َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤِﺑ َﺖْﺻَﺮَﺣ ْﻮَﻟَﻭ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ُﺮَﺜْﻛَﺃ ﺎَﻣَﻭ
“Dan sebahagian besar manusia tidak akan
beriman walaupun kamu sangat
menginginkannya”. (QS. Yusuf [12]: 103)
Mayoritasnya benci akan kebenaran…
َﻥﻮُﻫِﺭﺎَﻛ ِّﻖَﺤْﻠِﻟ ْﻢُﻫُﺮَﺜْﻛَﺃَﻭ
“…dan kebanyakan mereka benci kepada
kebenaran itu”. (QS. Al Mukminun [23]: 70)
Mayoritasnya tidak mengetahui kebenaran…
َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ ﻻ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﺮَﺜْﻛَﺃ َّﻦِﻜَﻟَﻭ
“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”. (QS. Al Jaatsiyah [45]: 26)
Mayoritasnya tidak memahami kebenaran…
َﻥﻮُﻠِﻘْﻌَﻳ ﻻ ْﻢُﻫُﺮَﺜْﻛَﺃ ْﻞَﺑ
“…tetapi kebanyakan mereka tidak memahami
(nya)”. (QS. Al Ankabut [29]: 63)
Mayoritas mereka itu kaum yang tidak beriman…
َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻳ ﻻ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﺮَﺜْﻛَﺃ َّﻦِﻜَﻟَﻭ
“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”.
(QS. Al Mukmin/Ghafir [40]: 59)
Mayoritas mereka itu tidak bersyukur…
َﻥﻭُﺮُﻜْﺸَﻳ ﻻ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﺮَﺜْﻛَﺃ َّﻦِﻜَﻟَﻭ
“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak
bersyukur”. (QS. Al Mukmin/Ghafir [40]: 61)
Itulah sifat-sifat orang yang dijadikan Tuhan
(arbaab) dalam agama Demokrasi; musyrik, kafir,
sesat, bodoh, kurang akal, benci terhadap
kebenaran, tidak mau bersyukur lagi menyesatkan.
Orang yang ridha dan beribadah kepada tuhan-
tuhan itu, maka ia lebih sesat dan lebih bodoh dari
kerbau piaraannya…!
ُّﻞَﺿَﺃ ْﻢُﻫ ْﻞَﺑ ِﻡﺎَﻌْﻧﻷﺎَﻛ َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ
“…mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi…” (QS. Al A’raf [7]: 179)
Enyahlah kalian dan apa yang kalian ibadati selain
Allah… maka apakah kamu tidak berakal…??!
5. Tuhannya banyak dan beraneka ragam
Sudah dijelaskan di awal pembahasan ini bahwa
hukum adalah hak khusus Allah Subhaanahu Wa
Ta’ala dan ia adalah ibadah, bila ia disandarkan
kepada selain Allah maka itu adalah syirik, dan
yang menerima penyandarannya itu adalah Tuhan
(arbaab) selain Allah.
Sudah diketahui bahwa rakyat (wakil-wakilnya)
adalah pemegang kewenangan hukum, itu dalam
dien Demokrasi, sedangkan wakil-wakil rakyat itu
jumlahnya sangat banyak, berarti tuhan-tuhan
mereka itu beraneka ragam. Ada tuhan yang
katanya mengaku Islam, ada yang Nashrani, ada
yang dari Budha, Hindu, Dukun, Paranormal,
Tentara, Polisi, dan lain sebagainya.
Sedangkan Tauhid mengajarkan bahwa sumber
yang berwenang menentukan hukum hanyalah
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala Yang Maha
Mengetahui…
ُﺭﺎَّﻬَﻘْﻟﺍ ُﺪِﺣﺍَﻮْﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻡَﺃ ٌﺮْﻴَﺧ َﻥﻮُﻗِّﺮَﻔَﺘُﻣ ٌﺏﺎَﺑْﺭَﺃَﺃ
“…manakah yang baik, tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha
Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf [12]: 39)
Di dalam Al Qur’an, para pembuat hukum itu diberi
beberapa nama oleh Allah: Arbaab, thaghut,
syuraka, auliaa-usy syaithan (wali-wali syaitan). Dia
Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻥﻭُﺩ ْﻦِﻣ ﺎًﺑﺎَﺑْﺭَﺃ ْﻢُﻬَﻧﺎَﺒْﻫُﺭَﻭ ْﻢُﻫَﺭﺎَﺒْﺣَﺃ ﺍﻭُﺬَﺨَّﺗﺍ
ﺎًﻬَﻟِﺇ ﺍﻭُﺪُﺒْﻌَﻴِﻟ ﻻِﺇ ﺍﻭُﺮِﻣُﺃ ﺎَﻣَﻭ َﻢَﻳْﺮَﻣ َﻦْﺑﺍ َﺢﻴِﺴَﻤْﻟﺍَﻭ
َﻥﻮُﻛِﺮْﺸُﻳ ﺎَّﻤَﻋ ُﻪَﻧﺎَﺤْﺒُﺳ َﻮُﻫ ﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ ﻻ ﺍًﺪِﺣﺍَﻭ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan
rahib-rahib mereka sebagai Arbaab (Tuhan) selain
Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih
putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh
menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah
dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At
Taubah [9]: 31)
Dalam ayat ini Allah menamakan orang-orang alim
dan para rahib Yahudi dan Nashrani sebagai
ARBAAB, saat ayat ini dibacakan oleh
Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam di hadapan
‘Adiy Ibnu Hatim ~saat itu asalnya Nashrani
kemudian masuk Islam~, maka dia langsung
mengatakan: “Kami tidak pernah sujud dan shalat
kepada mereka…”, maka Rasulullah menjelaskan
makna “mereka menjadikan para rahib dan alim itu
sebagai Arbab”: “Bukankah mereka menghalalkan
apa yang Allah haramkan kemudian kalian ikut
menghalalkannya, dan bukankah mereka
mengharamkan apa yang telah Allah halalkan terus
kalian ikut mengharamkannya?”,maka ‘Adiy
menjawab: “Ya, benar”. Dan Rasulullah berkata:
“Itulah bentuk ibadah kepada mereka”. (Atsar ini
dihasankan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rahimahullah).
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab
rahimahullah berkata: Bab: Orang yang mentaati
ulama dan penguasa dalam mengharamkan apa
yang Allah haramkan atau (dalam) menghalalkan
apa yang Allah haramkan: “maka ia telah
menjadikan mereka sebagai Arbaab selain Allah”.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
َﻝِﺰْﻧُﺃ ﺎَﻤِﺑ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ْﻢُﻬَّﻧَﺃ َﻥﻮُﻤُﻋْﺰَﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ َﺮَﺗ ْﻢَﻟَﺃ
ﺍﻮُﻤَﻛﺎَﺤَﺘَﻳ ْﻥَﺃ َﻥﻭُﺪﻳِﺮُﻳ َﻚِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ َﻝِﺰْﻧُﺃ ﺎَﻣَﻭ َﻚْﻴَﻟِﺇ
ِﺕﻮُﻏﺎَّﻄﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang
yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa
yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu? mereka hendak
berhakim kepada thaghut…” (QS. An Nisa [4]: 60)
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab
rahimahullah berkata tentang beberapa tokoh
thaghut: “Penguasa yang zhalim yang merubah
ketentuan-ketentuan Allah”, terus beliau tuturkan
ayat di atas.
Mujahid rahimahullah berkata: “Thaghut adalah
syaitan berwujud manusia yang mana orang-
orang berhakim kepadanya sedang dia adalah
pemegang kendali mereka”
Dan dalam catatan kaki Terjemahan Mushhaf
Departemen Agama RI: “Termasuk thaghut juga
adalah; orang yang menerapkan hukum secara
curang menurut hawa nafsu”. Maka ketahuilah…
sesungguhnya selain aturan Allah adalah curang
lagi bersumber dari hawa nafsu…!!! Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ْﻥَﺫْﺄَﻳ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ َﻦِﻣ ْﻢُﻬَﻟ ﺍﻮُﻋَﺮَﺷ ُﺀﺎَﻛَﺮُﺷ ْﻢُﻬَﻟ ْﻡَﺃ
ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪِﺑ
“Apakah mereka mempunyai syurakaa
(sembahan-sembahan) selain Allah yang
mensyari’atkan untuk mereka dien (aturan) yang
tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syuura [42]: 21)
Anda harus ingat dalam memahami ayat ini dan
yang lainnya bahwa hukum atau aturan atau
undang-undang adalah dien.
Kemudian tentang penamaan para pembuat
hukum selain Allah sebagai wali-wali syaitan, Dia
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang upaya
kaum musyrikin yang mendebat kaum muslimin
supaya setuju dengan aturan yang menyelisihi
aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia berfirman:
ْﻢِﻬِﺋﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ ﻰَﻟِﺇ َﻥﻮُﺣﻮُﻴَﻟ َﻦﻴِﻃﺎَﻴَّﺸﻟﺍ َّﻥِﺇَﻭ
َﻥﻮُﻛِﺮْﺸُﻤَﻟ ْﻢُﻜَّﻧِﺇ ْﻢُﻫﻮُﻤُﺘْﻌَﻃَﺃ ْﻥِﺇَﻭ ْﻢُﻛﻮُﻟِﺩﺎَﺠُﻴِﻟ
“…Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu
membisikkan kepada wali-wali mereka agar
membantah kamu; dan jika kamu menuruti
mereka, maka sesungguhnya kamu adalah benar-
benar musyrik”. (QS. Al An’am [6]: 121)
Bisikan syaitan kepada mereka adalah ucapan yang
mereka lontarkan kepada kaum muslimin: “Kalian
makan apa yang kalian bunuh (maksudnya
sembelihan) dan tidak makan apa yang dibunuh
Allah (maksudnya bangkai)”.
Jadi para pembuat hukum dan undang-undang itu
adalah wali-wali syaitan, dan sedangkan undang-
undang dan hukumnya itu adalah syari’at syaitan.
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy
rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang-orang
yang mengikuti qawanin wadl’iyyah (undang-
undang) yang disyari’atkan oleh syaitan lewat lisan
wali-walinya…”
Jadi, Demokrasi adalah ajaran syaitan, sedangkan
para penganutnya adalah para penyembah
syaitan…
6. Persamaan Hak
Di dalam ajaran Demokrasi, semua rakyat dengan
berbagai macam agama dan keyakinannya adalah
sama, tidak ada perbedaan antara muslim dengan
kafir, juga antara orang yang taat dengan yang
fasiq. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala
membedakan di antara mereka:
ُﺓَﺮْﺜَﻛ َﻚَﺒَﺠْﻋَﺃ ْﻮَﻟَﻭ ُﺐِّﻴَّﻄﻟﺍَﻭ ُﺚﻴِﺒَﺨْﻟﺍ ﻱِﻮَﺘْﺴَﻳ ﻻ ْﻞُﻗ
ِﺚﻴِﺒَﺨْﻟﺍ
“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang
baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik
hatimu…” (QS. Al Maidah [5]: 100)
Orang kafir adalah yang buruk sedangkan orang
muslim adalah yang baik…
ُﺏﺎَﺤْﺻَﺃ ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ُﺏﺎَﺤْﺻَﺃَﻭ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ ُﺏﺎَﺤْﺻَﺃ ﻱِﻮَﺘْﺴَﻳ ﻻ
ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ
“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan
penghuni-penghuni jannah…” (QS. Al Hasyr [59]:
20)
ﺎًﻘِﺳﺎَﻓ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻤَﻛ ﺎًﻨِﻣْﺆُﻣ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻤَﻓَﺃ
“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan
orang-orang yang fasiq?” (QS. As Sajdah [32]: 18)
Dan ayat-ayat lainnya…
Dengan risalah ini kami bermaksud untuk
menggugah anda agar mengetahui bahwa
Demokrasi itu adalah agama kafir lagi syirik,
sedang para pengusungnya serta para
penganutnya adalah kaum musyrikin walaupun
mereka menyatakan bahwa dirinya muslim, shalat,
zakat, shaum, haji dan yang lainnya.
Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada
Muhammad, keluarga, dan para shahabat. Wal
hamdu lillaahi rabbil ‘alamin…
03.08.2004
SUMBER : http://millahibrahim.wordpress.com/
seri-materi-tauhid/seri-6-tinjauan-kekafiran-
demokrasi/

About aylon91

Pencari Ridho Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s