I. DEVINISI ONANI
Dalam bahasa arab disebut ُﺀﺎَﻨْﻤِﺘْﺳِﻻﺍ (istimna’)
dari masdarnya lafadz ﻰَﻨْﻤَﺘْﺳﺍ , secara etimologi
berma’na berusaha mengeluarkan mani.
Sedangkan secara terminologi Onani adalah
mengeluarkan mani dengan selain berhubungan
suami istri, baik yang diharamkan, seperti
mengeluarkan mani dengan tangannya sendiri,
atau yang diperbolehkan seperti mengeluarkan
mani dengan tangan istrinya.[1]
Prinsipnya Onani adalah sebuah tindakan yang
berfungsi sebagai cara merangsang alat kelamin
dengan tangan atau benda lainnya untuk mendapat
suatu taraf orgasme. Pada umumnya masturbasi
menyangkut rangsangan dan pemuasan diri
sendiri, walaupun demikian masturbasi lumrah
dilakukan oleh dua orang dalam kapasitas
hubungan heteroseksual atau homoseksual. Kinsey
dalam penelitiannya seperti dikutip dari buku
“Woman’s Body”, mengatakan bahwa minimal 1
dari 6 wanita pernah melakukan masturbasi paling
sedikit satu kali sepanjang perjalanan hidupnya.
Dan kebanyakan dari para wanita menganggap
masturbasi adalah cara yang paling cepat dan
langsung untuk mendatangkan kenikmatan
orgasme.[2]
Onani biasanya identik dengan perbuatan yang
dilakukan oleh seorang pemuda, sedangkan kalau
pelakunya seorang cewek biasanya disebut
masturbasi.
II. HUKUM ONANI MENURUT IMAM MADZHAB
Dalam menyikapi perbuatan onani ini, didalam
kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah
dikalsifikasikan dalam beberapa kondisi, antara lain
[3]:
1. Kondisi tanpa ada kebutuhan (hajat) dengan
tangannya sendiri
Dalam kondisi ini, dari madzhab Malikiyah,
Syafi’iyah, dan Hanabilah sepakat bahwa hukum
onani adalah haram. Karena dalam al-Qur’an ayat
5-6 Surat al-Mu’minun dan diperkuat dalam ayat 7
dalam surat yang sama bahwa hanya ada dua hal
yang diperbolehkan untuk berjima’ yaitu dengan
isteri dan budaknya, tidak diperbolehkan dengan
selain itu (termasuk masturbasi/ onani/ istimna’
karena dengan tangan atau alat selain kelamin isteri
atau budaknya).
Pendapat ini didukung sebuah qoul dari kalangan
ulama’ Hanafiyah. Sedangkan menurut madzhab
Hanafi (qoul madzhab), Imam Ahmad dan Imam
‘Atho’ dalam sebuah riwayat menyatakan hukum
onani adalah makruh. Hukum makruh menurut
madzhab Hanafiyah di beri catatan makruh yang
diharamkan.
2. Kondisi takut melakukan zina
Menurut Hanafiyah dan Hanabilah dalam qoul
madzhab (qoul yang diterima dimadzhab tersebut)
hukum onani dalam kondisi ini tidak ada masalah,
artinya dilegalkan. Imam Al Mirdawi bahkan
mengatakan wajibnya onani dalam kondisi ini,
karena kondisi ini adalah kondisi yang melebihi dari
sekedar kondisi terpaksa. Sedangkan menurut
Syafi’iyah hukum onani dalam kondisi ini adalah
haram. Karena hanya sekedar hajat dan syariat
telah mengharamkan hal itu, kecuali tidak ada jalan
lain untuk menghindari zina, toh masih ada cara
lain untuk menghindar dari zina, yaitu dengan
berpuasa misalnya.[4]
3. Kondisi tidak ada jalan lain untuk menghindar
dari zina
Madzhab Hanafiyah, Syafi’yah dan Hanabilah
sepakat ketika dalam kondisi ini maka hukum onani
adalah legal, karena untuk menghindari zina yang
lebih besar nilai dosanya. Sedangkan menurut
Madzhab Malikiyah hukum onani tetap haram
ditakutkan zina ataupun tidak, sedangkan apabila
hanya dengan istimna’ jalan satu-satunya untuk
menghindari zina, maka didahulukan melakukan
onani dari pada zina karena mengedepankan
mafsadah yang lebih ringan dari dua hal mafsadah.
4. Dengan tangan istrinya
Menurut pendapat yang Rojih dari Malikiyah,
Hanabila dan Hanafiyah dalam sebuah riwayat dan
Imam Qodli Husain dari Syafi’iyah mengatakan
hukum onani dengan tangan istrinya adalah legal.
Karena seorang istri adalah tempat istimna’ (ngalap
suko; jawa). Yang dimaksud legal oleh Hanafiyah
dan Imam Qodli Husain diatas adalah makruh.
Menanggapi hal ini Imam Ibnu ‘Abidin bahwa
makruh yang dimaksud adalah makruh tanzih
(makruh yang tidak sampai haram).[5]
Sedangkan Ibn Hazm memandang perbuatan
masturbasi/ onani/ istimna’ bukan merupakan
perbuatan yang diharamkan. Karena dalam al-
Qur’an tidak ada yang jelas-jelas menyatakan
tentang keharaman masturbasi/ onani/ istimna’ ini.
Ibn Hazm mengatakan bahwa onani/ masturbasi
itu hukumnya makruh dan tidak berdosa [lā Itsma
fihi]. Akan tetapi, menurutnya onani/ masturbasi
dapat diharamkan karena merusak etika dan budi
luhur yang terpuji. Ibn Hazm mengambil
argumentasi hukum dengan satu pernyataan
bahwa orang yang menyentuh kemaluannya
sendiri dengan tangan kirinya diperbolehkan
dengan ijmā’ (kesepakatan semua ulama). Dengan
pertimbangan itu maka tidak ada tambahan dari
hukum mubāh tersebut, kecuali adanya
kesengajaan mengeluarkan sperma [at-Ta’ammud
li Nuzul al-Maniy] sewaktu melakukan masturbasi.
Perbuatan ini sama sekali tidak dapat diharamkan.
Dengan demikian masturbasi/ onani/ istimna’ pada
dasarnya bukan merupakan jalan normal dalam
pemenuhan nafsu syahwat, dan dengan
mempertimbangkan bahwa masturbasi atau
onani/ istimna’ bisa mendatangkan kerugian bagi
pelakunya bila dibiasakan maka hukum asal
masturbasi atau onani lebih condong kepada
hukum makruh. Jika telah nyata menunjukkan
kecenderungan bahwa masturbasi atau onani
merusak pelakunya – atas dasar hadits Nabi yang
melarang setiap perbuatan yang merugikan diri
sendiri atau orang lain – maka masturbasi atau
onani hukumnya bisa menjadi haram. Sedangkan
masturbasi atau onani yang dilakukan guna
menghindari perbuatann zina bisa menjadi mubah
dan dibolehkan, sebagaimana firman Allah SWT.
dalam al-Qur’an (Q.S. an-Nisa’ (4): 31):
ﻢﻜﻨﻋ ﺮﻔﻜﻧ ﻪﻨﻋ ﻥﻮﻬﻨﺗ ﺎﻣ ﺮﺌﺒﻛ ﺍﻮﺒﻨﺘﺠﺗ ﻥﺍ
ﺎﻤﻳﺮﻛ ﻼﺧﺪﻣ ﻢﻜﻠﺧﺪﻧ ﻭ ﻢﻜﺗﺎﻴﺳ
Kebolehan masturbasi atau onani ini sesuai
pendapat dari Ibnu ‘Abbas, Hasan, dan beberapa
tokoh tabi’in lain. Hasan berkata: “Mereka dahulu
mengerjakan onani ketika terjadi peperangan (jauh
dari keluarga atau isteri).” Sementara Mujahid, ahli
tafsir murid Ibnu ‘Abbas, berkata: “Orang-orang
dahulu (sahabat Nabi) justru menyuruh para
pemuda-pemudanya untuk melakukan onani agar
menjaga kesucian dan kehormatan diri”. Sejenis
dengan onani, masturbasi pun sama hukumnya.
[6] Hukum mubah ini berlaku baik untuk kaum laki-
laki maupun perempuan.[7]
III. DAMPAK ONANI BAGI PELAKUNYA
Secara ilmu kedokteran, belum ada
literature yang merujuk pada dampak onani secara
fisik. Bila ada yang beranggapan aktivitas onani
akan menyebabkan ukuran alat kelamin pria
berubah, itu hanyalah rumor. Karena memang
belum ada penelitian yang bisa membuktikannya.
Hanya dari sisi kejiwaan, onani memiliki
dampak terhadap perilaku seksual seseorang.
Karena dalam aktivitas tersebut, pelaku cenderung
akan berimajinasi kepada lawan jenis yang
memiliki kesempurnaan baik fisik maupun perilaku.
Akibatnya ketika fantasi tersebut tidak berhasil di
dapat dalam kehidupan nyata, akan mengurangi
gairah pelaku dalam aktivitas seksualnya.
Selain itu, onani juga bisa menyebabkan
seseorang mengalami ancaman ejakulasi dini. Hal
ini seiring dengan saluran sperma yang seringnya
dilalui oleh sperma sehingga jalur tersebut lebih
longgar daripada saluran sperma yang jarang
dilalui. Ibaratnya, jalur yang makin sering
menerima gesekan tersebut cenderung lebih
longgar.[8]
Aktivitas ‘melayani’ diri sendiri ini
memang memiliki sejumlah manfaat bagi
kesehatan seperti membantu meningkatkan
kualitas tidur, meredam stres, memperbaiki fungsi
kekebalan tubuh, dan meningkatkan produksi
endorfin. Namun, di balik manfaatnya, masturbasi
juga menyimpan efek negatif. Seperti dikutip dari
laman Askmen, masturbasi yang tak dilakukan
secara moderat bisa menyebabkan jerawat,
kemandulan, kebutaan, hingga gangguan mental.
Kemudian ada baiknya juga kami
cantumkan beberapa hal lain mengenai efek negatif
masturbasi. Antara lain :
1. Ejakulasi Dini
Terlalu sering masturbasi menyebabkan ejakulasi
dini. Ejakulasi berikutnya juga akan memakan
waktu lama. Bagi pria yang masturbasi beberapa
kali sebelum berhubungan intim, akan sulit
mencapai klimaks.
Masalah lain yang timbul adalah berkurangnya
sensitivitas terhadap sentuhan orang lain, dan lebih
akrab dengan sentuhan diri. Terlalu sering
melakukannya juga dapat memicu kulit lecet,
pembengkakan organ intim karena tidak
menggunakan pelumas.
2. Rasa bersalah
Masturbasi berdampak negatif secara psikologis.
Banyak orang merasa malu dan bersalah setelah
melakukannya karena terbentur nilai-nilai budaya,
agama atau moral.
Tarik menarik antara kesenangan dan menahan diri
berdampak pada harga diri, rasa percaya diri dan
cinta. Perasaan bersalah dapat memicu efek
psikosomatis seperti sakit kepala, sakit punggung,
dan sakit kronis.
3. Masturbasi kronis
Masturbasi kronis mempengaruhi otak dan kimia
tubuh akibat kelebihan produksi hormon seks dan
neurotransmiter. Meski dampaknya pada setiap
orang berbeda, terlalu sering masturbasi dapat
memicu gangguan kesehatan seperti kelelahan,
nyeri panggul, testis sakit, atau rambut rontok.
Berkurangnya produksi testosteron juga terkait
dengan kebiasaan dan gaya hidup seperti
konsumsi alkohol, merokok dan berolahraga.
Jika gaya hidup cenderung normal, namun
memiliki kebiasaan masturbasi sebaiknya kurangi
aktivitas seksual itu untuk mengurangi keluhan. Jika
keluhan tak kunjung reda, hubungi dokter untuk
pemeriksaan medis.
4. Masturbasi kompulsif
Masturbasi ini mempengaruhi kehidupan karena
sudah menjadi kebiasaan. Sebagian pria yang
masturbasi enam kali sehari bisa saja merasa
produktif, sementara lainnya merasa sebaliknya.
Masturbasi kompulsif dapat berdampak negatif
pada pekerjaan, hubungan dengan pasangan,
harga diri, keuangan, dan sosial, jika tidak dapat
menyeimbangkan antara kebutuhan pribadi dan
hasrat.[9]
Seperti dikutip Journal of the American Medical
Association, edisi pekan lalu, mereka melakukan
studi terhadap 29.342 petugas kesehatan. Relawan
pria itu berusia 46-81 tahun. Kepada mereka
diajukan beberapa pertanyaan. Satu di antaranya,
berapa rata-rata ejakulasi per bulan pada saat
menginjak usia 20-29 tahun dan 40-49 tahun.
Studi yang dipimpin Michael F. Leitzmann, peneliti
dari Lembaga Kanker Nasional Amerika Serikat, ini
berlangsung selama delapan tahun. Kuesioner
dikumpulkan, dianalisis, dan kesehatan mereka
diperiksa. Mereka lalu dibagi menjadi dua kelompok
berdasarkan jawaban frekuensi ejakulasi: 13-20 kali
per bulan dan di atas 21 kali.
Ejakulasi adalah keluarnya sperma dari penis.
Hasilnya: hanya 1.449 relawan yang belakangan
menderita kanker prostat. Dari jumlah yang
terkena, kondisi 147 relawan sangat kritis.
Kankernya sudah parah. Lalu Leitzmann dan
koleganya membuat persentase risiko terkena
kanker prostat. Menurut dia, kelompok yang cuma
berejakulasi 13-20 kali sebulan hanya mengurangi
risiko kena kanker prostat 14%. Ini lebih kecil
dibandingkan dengan yang berejakulasi 21 kali ke
atas saban bulan.
Persentase terbebas dari serangan kankernya
mencapai 33%. “Artinya, makin sering berejakulasi,
makin kecil kemungkinan terjangkit kanker
prostat,” ujarnya. Berkurangnya risiko itu lantaran
ejakulasi berperan mengeluarkan bahan-bahan
kimia penyebab kanker. Andai kata tak dikeluarkan,
bahan-bahan tersebut akan menumpuk di kelenjar
prostat dan bisa memicu kanker. Studi ini tentu
mengejutkan. Sebelum ini, banyak dugaan, makin
kerap berejakulasi, risikonya makin didekati kanker.
Sebab, kekerapan ejakulasi menunjukkan
banyaknya hormon testosteron. Makin banyak
hormon seks bisa memicu pertumbuhan sel-sel
kanker.
Orang pantas khawatir karena kanker prostat
terbilang sangat mengganggu. Bila terkena, air
mani tak bisa keluar. Pasien akan terganggu saat
kencing. Air yang keluar dari kandung kemih
sedikit. Kalau terus dibiarkan, bisa mengakibatkan
disfungsi ereksi. Toh, ada juga yang meragukan
validitas studi Leitzmann. “Apakah mereka dapat
mengingat berapa kali berejakulasi beberapa tahun
lalu,” kata Michael Naslund, urolog dari University
of Maryland Medical Center, Baltimore, Amerika
Serikat.
Menurut dia, studi ini belum dapat dijadikan
petunjuk baru bagi kaum laki-laki yang ingin
terhindar dari penyakit itu. Sementara itu, Wimpie
Pangkahila, seksolog pada Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana, Denpasar, tak mau
berkomentar lantaran harus melihat metode
penelitiannya. Tapi, katanya, frekuensi hubungan
seksual atau masturbasi tak terkait dengan kanker.
“Berhubungan seks terlalu sering tak berbahaya
sepanjang mampu,” ujarnya. Sedangkan risiko
kanker lebih terkait dengan faktor-faktor pemicu
lain, seperti lingkungan dan gaya hidup.[10]
IV. TIPS PENCEGAHAN ONANI
Untuk mengurangi kebiasaan onani, ada beberapa
hal yang bisa dilakukan. Di antaranya :
1. Perbanyak aktivitas, sehingga pikiran tidak diisi
oleh lamunan-lamunan yang tidak perlu.
2. Olahraga. Hal ini sangat bermanfaat untuk
menyalurkan kelebihan energi yang dimiliki
oleh kalangan remaja.
3. Puasa. Dengan perut yang kosong, maka
energi yang dimiliki bisa lebih dihemat untuk
daya tahan puasa. Sehingga hasrat untuk
“berbuat” pun bisa lebih dikurangi. Apalagi,
dalam agama juga dianjurkan untuk berpuasa
bagi siapa saja yang tidak mampu memerangi
nafsu syahwatnya.
KESIMPULAN
1. Jadi secara garis besar pandangan Imam asy-
Syafi’i dan para ulama yang sama-sama
mengharamkan perbuatan masturbasi/ onani/
istimna’ karena adanya dua alasan:
1. Sesuai dalam al-Qur’an ayat 5-6 Surat al-
Mu’minun dan diperkuat dalam ayat 7 dalam surat
yang sama bahwa hanya ada dua hal yang
diperbolehkan untuk berjima’ yaitu dengan isteri
dan budaknya, tidak diperbolehkan dengan selain
itu (termasuk masturbasi/ onani/ istimna’ karena
dengan tangan atau alat selain kelamin isteri atau
budaknya).
2. Dianggap tidak sesuai secara etika moral
karena merupakan perbuatan yang tidak terpuji
dan tidak tergolong orang yang berakhlakul
karimah.
3. Ketika dalam kondisi tdak ada jjalan lain selain
dengan onani, maka hukum onani adalah legal
secara syara’, dalam hal ini ada yang mengatakan
makruh tanzih adapula yang mangatakan boleh
(mubah).
II. SARAN
1. Meski ada pendapat ulama’ yang menyatakan
boleh, tapi sebaiknya kita jangan
mengantisipasi dari zina dengan cara onani,
karena masih ada cara yang lain untuk hal itu,
misalkan dengan berpuasa. Kalau toh masih
tidak mampu, maka sebaiknya menikah saja.
2. Apa yang telah dipaparkan tentu masih sangat
banyak sekali salah atau kekurangannya. Maka
kritik dan saran yang membangun sangat
kami harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Ali al Jurjawi, Hikmat al-Tasyri’ wa
Falsafatuhu, (Kairo: Mathba’ah al-Yusufiyyah, 1931).
Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Maktabah
As-Syamilah, Maktabah as-syamilah.
Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul muhtaj. Maktabah
as-syamilah.
Kelana Aries, dan Anton Muhajir (Denpasar)
[Kesehatan, Kanker Prostat Sehat Dengan Ejakulasi,
GATRA, Edisi 23 Beredar Jumat 16 April 2004].
Sabiq Sayyid, Fiqh as-Sunnah. Maktabah as-
syamilah.
Syamsuddin Ibnu Abil Abas Ahmad Ibnu Hamzah
Syihabuddin Ar-Romli, Nihayatul Muhtaj, Maktabah
as-syamilah.

http://gerry-tk.blogspot.com/2010/03/dampak-

negatif-masturbasi-onani-bagi.html.

http://www.anneahira.com/onani.htm.

__________________________
Referensi :
[1] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah,
Maktabah As-Syamilah, vol.03, Hal. 97 dan
Nihayatul Muhtaj, Vol.03, Hal.169.
[2] Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya, Wanita Masturbasi Untuk
Orgasme (Surabaya, Sabtu, 12 Agustus 2000),
Copyright http:// www. Yahoo.com, Akses Kamis,
24 Juli 2003, 12.56 WIB.
[3] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah,
Maktabah As-Syamilah, Maktabah as-syamilah.
[4] Tuhfatul muhtaj, Vol.01, Hal.389. dan Nihayatul
Muhtaj, Vol.01, Hal.312
[5] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah,
Maktabah As-Syamilah, Maktabah as-syamilah
[6] Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, hlm. 436.
[7] Hikmat al-Tasyri’ wa Falsafatuhu, Vol II, (Kairo:
Mathba’ah al-Yusufiyyah, 1931), hlm. 198-199.
[8] http://www.anneahira.com/onani.htm
[9] http://gerry-tk.blogspot.com/2010/03/
dampak-negatif-masturbasi-onani-bagi.html
[10] Aries Kelana, dan Anton Muhajir
(Denpasar) [Kesehatan, Kanker Prostat Sehat
Dengan Ejakulasi, GATRA, Edisi 23 Beredar Jumat
16 April 2004]

About aylon91

Pencari Ridho Allah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s